Hukum Pernikahan Dalam Islam

Hukum Pernikahan Dalam Islam – Para ulama menyebutkan bahwa nikah diperintahkan karena dapat mewujudkan maslahat, memelihara diri, kehormatan, mendapatkan pahala dan lain-lain.
Oleh karena itu, apabila pernikahan justru membawa mudharat maka nikah pun dilarang. Karena itu hukum asal melakukan pernikahan adalah mubah.

Para ahli fikih sependapat bahwa hukum pernikahan tidak sama penerapannya kepada semua mukallaf, melainkan disesuaikan dengan kondisi-masing-masing, baik dilihat dari kesiapan ekonomi, fisik, mental maupun akhlak. Karena itu hukum nikah bisa menjadi wajib, sunah, mubah, haram dan makruh. Hukum Pernikahan Dalam Islam Penjelasannya adalah sebagai berikut : a. Wajib yaitu bagi orang yang telah mampu baik fisik, mental, ekonomi, maupun akhlak untuk melakukan pernikahan, mempunyai keinginan untuk menikah dan jika tidak menikah, maka dikhawatirkan akan jatuh pada perbuatan maksiat, maka wajib baginya untuk menikah. Karena menjauhi zina baginya adalah wajib dan cara menjauhi zina adalah dengan menikah.

b. Sunnah yaitu bagi orang yang telah mempunyai keinginan untuk menikah namun tidak dikhawatirkan dirinya akan jatuh kepada maksiat, sekiranya tidak menikah. Dalam kondisi ini seseorang boleh melakukan dan boleh tidak melakukan pernikahan. Tapi melakukan pernikahan akan lebih baik daripada mengkhususkan diri untuk beribadah sebagai bentuk sikap taat kepada Allah swt.

 

c. Mubah bagi yang mampu dan aman dari fitnah, tetapi tidak membutuhkannya atau tidak memiliki syahwat sama sekali seperti orang yang impoten atau lanjut usia, atau yang tidak mampu menafkahi, sedangkan wanitanya rela dengan syarat wanita tersebut harus rasyidah (berakal). Juga mubah bagi yang mampu menikah dengan tujuan hanya sekedar untuk memenuhi hajatnya atau bersenang-senang, tanpa ada niat ingin keturunan atau melindungi dari yang haram.
hukum pernikahan dalam islam
d. Haram yaitu bagi orang yang yakin bahwa dirinya tidak akan mampu melaksanakan kewajiban-kewajiban pernikahan, baik kewajiban yang berkaitan dengan hubungan seksual maupun berkaitan dengan kewajiban-kewajiban lainnya. Pernikahan seperti ini mengandung bahaya bagi wanita yang akan dijadikan istri. Sesuatu yang menimbulkan bahaya dilarang dalam islam.

e. Makruh yaitu bagi seseorang yang mampu menikah tetapi dia khawatir akan menyakiti wanita yang akan dinikahinya, atau mendzalimi hak-hak istri dan buruknya pergaulan yang dia miliki dalam memenuhi hak-hak manusia atau tidak minat terhadap wanita dan tidak mengharapkan keturunan.

Artikel Lainnya :

Kata Kunci Halaman Ini:

  • Hukum pernikahan
  • bagi seseorang yang mampu menikah tepati khawatir menjolimi istro nya
  • bagi orang yang telah mempunyai keinginan untuk menikah namun tidak di khawatirkan dirinya akan jatuh kepada maksiat sekiranya tidak menikah dalam kondisi seperti ini seseorang boleh melakukan dan tidak boleh melakukan pernikahan tapi melakukan pernikahan
  • bagi orang yang telah mempunyai keinginan menikah namun dikhawatirkan dirinya akan jatuh lepada maksiat apabila tidak menikah termasuk ke dalam hukum pernikahan
  • bagi orang yang telah mampu untk menikah namun tidak dikhawatirkan dirinya akan jatuh kepada maksiat sekiranya tidak menikah hukumnya adalah
  • bagi orang yang mampu untuk menikah namun dikhwatirkan dirinya akan jatuh maksiat sekiranya tidak menikah adalah hukum
  • bagi orang yang mampu menikah namun tidak dikhawatirkannya akan jatuh dalam maksiat sekiranya tidak menikah maka seperti ini hukum nikah adalah
  • bagi orang yang mampu dan khawatir untuk zina nikah hukumnya
  • bagaimana hukum pernikahan yang asalnya mubah dapat menjadi wajib?
  • seseorang yang telah mempunyai keinginan untuk menikah namun tidak dikhawatirkan dirinya akan jatuh kepada maksiat sekiranya menikah hukumnya
Hukum Pernikahan Dalam Islam | Jaya Kurnia | 4.5