Apa yang dimaksud dengan Amfibi

Amfibi adalah sertebrata berdarah dingin, atau ektoterm, di kelas Amphibia. Ini termasuk katak dan kodok (ordo Anura, atau Salientia), salamander dan kadal air (ordo Urodela, atau Caudata), dan caecilian, amfibi tanpa kaki (ordo Apoda, atau Gymnophiona). Ada lebih dari 11.000 spesies amfibi, dan mereka diyakini sebagai spesies vertebrata pertama yang hidup di darat.

Terletak di antara ikan dan reptil pada skala evolusi, mereka adalah vertebrata darat yang paling primitif dan mengalami metamorfosis dari larva tanpa kaki yang bernapas di air (kecebong) menjadi pecinta darat, atau sebagian terestrial, bernapas di udara. -kaki dewasa.

Telur biasanya disimpan di air atau tempat terlindung yang basah, meskipun beberapa bertelur di tempat kering. Telur tidak bercangkang dan tidak memiliki membran yang umum pada reptil atau vertebrata yang lebih tinggi. Orang dewasa memiliki kulit lembab tanpa sisik atau sisik kecil, dan mereka berspesialisasi dalam habitat hidup. Masing-masing memiliki adaptasi evolusionernya sendiri dari kemampuan melompat (dalam beberapa kasus lebih dari 17 kaki) katak dan kodok, hingga caecilian tanpa kaki, hingga ekor panjang salamander dan kadal air. Misalnya, katak dapat memasuki aesti-vasi, periode dormansi yang mirip dengan hibernasi, ketika mengalami periode panas atau kekeringan yang lama, dan mereka dapat bernapas melalui kulitnya dalam proses yang disebut pertukaran gas kulit. Katak paling beracun yang dikenal, Phyllobates terribilis, hanya membutuhkan
0,00000007 ons sekresi kulit untuk membunuh pemangsa, sementara antibiotik yang dikeluarkan dari katak cakar Afrika (Xenopus laevis) suatu hari nanti dapat digunakan untuk mengobati luka bakar dan cystic fibrosis.
Selama 50 tahun terakhir, banyak spesies amfibi di seluruh dunia telah menurun drastis jumlahnya; beberapa spesies telah punah. Dalam banyak kasus, penurunan ini disebabkan oleh pengaruh manusia yang merugikan yang bertindak secara lokal, seperti penggundulan hutan, pengeringan lahan basah, dan polusi.

Namun, pada tahun 1988, herpetologis (ilmuwan yang mempelajari amfibi) dari berbagai belahan dunia melaporkan penurunan populasi amfibi di habitat yang dilindungi, atau murni, seperti taman nasional dan cagar alam, di mana efek lokal seperti itu tidak dapat disalahkan. Hal ini menunjukkan bahwa mungkin ada satu atau lebih faktor global yang mempengaruhi perubahan iklim dan atmosfer dan mempengaruhi amfibi secara merugikan, seperti peningkatan radiasi UV-B, polusi yang meluas, hujan asam, dan penyakit. Akibatnya, penurunan tersebut dapat menjadi hasil dari perubahan yang disebabkan oleh manusia pada ekosistem global dan dapat memiliki konsekuensi yang luas bagi kelangsungan hidup manusia.

Related Posts