Apa Kegunaan Teknologi Kultur Mikroba?

Sejak dahulu kala mikroorganisme telah digunakan untuk produksi berbagai produk. Setelah pengembangan kultur murni, galur-galur yang ditingkatkan dari berbagai jalur metabolisme, mereka dieksploitasi untuk berbagai produk industri dan biotek yang berguna yang tidak pernah mungkin dilakukan oleh galur biasa.

Bisakah Anda bayangkan, E. coli kembali memproduksi insulin manusia? Eksploitasi mikroorganisme untuk beberapa produk bermanfaat diberikan dan dibahas di bawah ini:

(a) Eksploitasi Seluruh Sel Mikroorganisme:

Sejak zaman Veda, seluruh sel mikroorganisme telah digunakan untuk produksi produk sebagai biakan pemula. Misalnya, sesendok dadih tua dicampur dengan susu rebus dan dinginkan (sekitar 37°C) dua liter untuk menghasilkan dadih dan keju. Demikian pula, jalebi juga diproduksi setelah pencampuran sel ragi dengan persiapan tepung terigu (disebut maida).

Seluruh sel Candida utilis, Torula sp. dan Spirulina maxima sekarang digunakan sebagai protein sel tunggal (SCP). SCP adalah sumber protein yang baik. Misalnya, S. maxima mengandung sekitar 60% protein.

Vaksin untuk tifus, tetanus dan tuberkulosis juga telah disiapkan dengan menggunakan sel utuh dari masing-masing bakteri.

Tempe merupakan salah satu makanan jamur oriental Indonesia, Jepang dan negara lainnya. Ini diproduksi dengan menginokulasi kotiledon kedelai yang direndam dan dikupas dengan Rhizopus oligosporus dan diinkubasi selama 4-5 hari.

Pupuk hayati juga telah diproduksi secara industri di India dan negara lain dan dikomersialkan dengan nama dagang yang berbeda. Kultur murni bakteri seperti spesies Rhizobium atau Pseudomonas dicampur dengan pembawa (limbah organik inert), dikeringkan dan dikemas dalam plastik dan dijual dalam bentuk spidol.

Pusat Pengembangan Pupuk Hayati Nasional (NBDC), Kementerian Pertanian (Ghaziabad, UP) telah didirikan untuk mempromosikan para ilmuwan untuk menyediakan pengetahuan bagi para petani.

Sudah banyak berdiri industri yang menyiapkan pupuk hayati dan menjualnya ke pasar. Para petani harus menggunakan pupuk hayati untuk peningkatan produksi tanaman berkelanjutan yang ramah lingkungan.

(b) Produksi Metabolit Primer:

Metabolit primer (alkohol, asam, vitamin, dll.) adalah produk mikroba yang diproduksi selama fase pertumbuhan eksponensial (fase log). Ini digunakan oleh mikroorganisme misalnya etanol, asam sitrat, vitamin C, vitamin B12 , dll.

(c) Biomining (Bioleaching) dan Bioremediasi:

Mikroba dieksploitasi untuk ekstraksi logam tertentu seperti emas, perak, tembaga, belerang, besi, dll. Melalui reaksi metabolisme, mikroba mengendapkan masing-masing logam dalam larutan.

Misalnya, Thiobacillus ferooxidans mengendapkan besi dari bijih. Demikian pula, yang paling mencemari tanah adalah pelarut terklorinasi, hidrokarbon, poliklorobifenil dan logam.

Sekarang-a-hari, persiapan mikroba digunakan untuk degradasi polutan ini. Bahan organik limbah yang diolah dengan strain mikroorganisme potensial terpilih diubah menjadi ­bentuk yang kurang beracun atau tidak beracun. Proses penanggulangan polusi ini disebut bioremediasi.

(d) Produksi Protein Rekombinan:

Setelah tahun 1980, teknologi DNA rekombinan memberikan banyak harapan untuk produksi protein baru menggunakan mikroorganisme hasil rekayasa genetika. Insulin manusia adalah protein terapeutik pertama yang diproduksi oleh E. coli yang direkayasa secara genetik. Demikian pula, sel ragi yang diubah telah digunakan untuk memproduksi vaksin hepatitis yang diubah. Untuk detail lihat Bab 3.

Related Posts