Apa Pertentangan Sosiologis tentang Penyebab Kejahatan?

Perselisihan Sosiologis tentang Penyebab Kejahatan

Seorang sosiolog memiliki persepsi tersendiri dalam memandang perilaku manusia. Dia tidak mengabaikan ciri-ciri kepribadian tetapi menekankan pada pembelajaran dan aspek perilaku yang diperoleh. Kejahatan juga merupakan salah satu aspek dari perilaku individu. Oleh karena itu, analisis perilaku kriminal harus berfokus pada fakta-fakta berikut (Gibbons, 1977: 244-46):

  1. Pembelajaran nilai, sikap, dan pola perilaku tergantung pada proses sosialisasi dan asosiasi antarpribadi. Oleh karena itu, penting untuk mendekati kejahatan individu dengan memperhatikan kumpulan peran sosialnya yang diambil darinya
  2. Proses etiologi yang mengarah pada perilaku peran kriminalistik melibatkan sejumlah variabel kausal, yakni perilaku kriminal merupakan produk dari penyebab berganda.
  3. Situasi-situasi yang menghalangi tercapainya tujuan berkontribusi besar terhadap kejahatan dan kenakalan.
  4. Hampir setiap orang melakukan pelanggaran hukum kecil-kecilan dalam hidupnya dan juga memiliki motif yang menyimpang dan kriminal; tetapi penjahat adalah orang-orang yang ‘berat’ memainkan peran kriminal, yaitu terlibat dalam tindakan pelanggaran hukum yang serius dan oleh karena itu diidentifikasi oleh masyarakat sebagai penjahat atau penjahat.

Individu yang terlibat dalam tindakan penyimpangan kecil dan terisolasi juga terkadang dilabeli sebagai pelanggaran hukum. Keduanya adalah ‘penjahat’ karena mereka begitu dilabeli oleh mesin resmi kontrol sosial.

  1. Kejahatan sejumlah besar penjahat tidak direncanakan tetapi merupakan hasil dari tekanan situasional.
  2. Pelaku kejahatan laki-laki dan perempuan serta pelaku remaja dan dewasa memerlukan pendekatan yang berbeda dalam mekanisme motivasi mereka untuk melakukan kejahatan.
  3. Ada variasi karakter di antara para penjahat. Variasi tersebut baik dalam karakteristik sosial mereka maupun dalam perilaku menyimpang. Selain itu, ada beberapa orang yang menganggap dirinya sebagai penjahat tetapi banyak pula yang tidak memiliki citra diri sebagai penjahat.
  4. Penjahat tidak hanya memainkan peran anti sosial tetapi juga banyak peran sosial sebagai suami, ayah, karyawan, dan sebagainya.
  5. Variasi reaksi masyarakat terhadap berbagai jenis kriminalitas serta penanganan hukuman menentukan kelanjutan kriminalitas.
  6. Semakin banyak hukum di masyarakat, semakin banyak polisi menjadi tidak efektif. Dengan demikian, hukum yang berlebihan dan ketidakefektifan polisi meningkatkan kriminalitas.

Related Posts