Disiplin Cacat – Bertindak sebagai Katalis bagi Penjahat

Disiplin yang Cacat – Bertindak sebagai Katalis bagi Penjahat

Disiplin yang rusak dalam keluarga dapat ditemukan dalam berbagai bentuk, seperti pengawasan yang lemah, rumah yang tidak bermoral, dll. Pengawasan keluarga yang lemah berarti kurangnya bimbingan dan arahan orang tua yang dapat disebabkan oleh berbagai alasan, seperti kesehatan yang buruk, keluarga besar, ibu sibuk dengan dirinya sendiri. pekerjaan di luar rumah, dan sebagainya.

Tunawisma pada orang dewasa berarti tidak memiliki orang tua dan saudara kandung, tinggal jauh dari rumah di rumah kontrakan atau di asrama/penginapan, dll. Tunawisma menyebabkan mobilitas yang cukup besar yang menjadi penyebab terlepas dari kontrol keluarga.

Studi Andry pada tahun 1971 menunjukkan bahwa ayah dari anak-anak nakal sangat signifikan karena mereka kurang menunjukkan kasih sayang dan kurang berhubungan dengan anak-anak daripada ayah dari anak-anak ‘normal’ (tidak nakal).

Sears melakukan penelitian pada tahun 1957 untuk mengetahui apakah aktivitas kriminal merupakan hasil dari perolehan moralitas atau hati nurani yang salah. Ini sebenarnya adalah studi tentang efek dari praktik membesarkan anak dalam keluarga nakal dan tidak nakal. Studi ini menunjukkan pra-disposisi ‘laten’ terhadap kejahatan serta ‘kinerja’ yang sebenarnya.

Anak-anak yang diperlakukan dengan cara tertentu dalam keluarga yang tidak nakal memang menjadi sama (secara laten) ‘tidak bermoral’ tetapi berbagai faktor lain menekan kinerja kenakalan/tindak kriminal mereka.

Temuan umum adalah bahwa teknik disiplin psikologis (seperti pujian, penarikan cinta, dan isolasi, yaitu mengirim anak ke kamarnya) berhubungan positif dengan perkembangan moral, sementara teknik fisik (seperti penarikan penghargaan, perampasan hak istimewa dan hukuman fisik) berhubungan negatif dengan itu.

Studinya dan beberapa studi lain tentang keluarga memiliki kelemahan metodologis. Mereka ‘melabeli’ sebuah keluarga sebagai rawan kenakalan dan kemudian menganalisis praktik pengasuhan anak.

Cara yang tepat adalah dengan melakukan studi yang tidak mengambil kelompok pra-label sebagai titik awal tetapi populasi anak normal yang kemudian diikuti perkembangannya untuk melihat mana yang menjadi ‘nakal’ dan mana yang tidak.

Kritik lain dari penelitian ini adalah bahwa mereka gagal dalam memperhitungkan perbedaan ‘dalam keluarga’, yaitu, mengapa satu anak daripada yang lain menjadi nakal. Apakah faktor-faktor seperti sekolah, teman, peluang sosial untuk kepuasan kebutuhan, dll mengurangi pengaruh keluarga?

Singkatnya, dapat dikatakan bahwa semua studi ini memberikan data yang cukup besar, meskipun validitasnya meragukan, tentang ‘kehidupan keluarga’ anak-anak nakal. Jelas bahwa studi ini menggunakan ideologi moralistik tertentu yang pada dasarnya berfungsi untuk ‘menyalahkan’ orang tua atas perlakuan terhadap anak-anak mereka dan aktivitas kriminal mereka selanjutnya.

Namun, ini menimbulkan pertanyaan dari mana rantai sebab akibat dimulai. Artinya, mengapa orang tua berperilaku seperti itu? Apakah mereka (orang tua) dianiaya oleh orang tua mereka?

Studi tersebut, bagaimanapun, menyajikan tiga pandangan tentang peran keluarga dalam kejahatan: (i) penjelasan psikoanalitik, (ii) penjelasan behavioris, dan (iii) penjelasan kognitif. Penjelasan psikoanalitik berfokus pada kesulitan dalam perkembangan awal anak-anak yang menyebabkan ‘penyakit’ mereka menyebabkan mereka melakukan kejahatan seperti pencurian, pembakaran, penyerangan seksual, dll.

Karena kejahatan disebabkan oleh ‘penyakit’, anak-anak dianggap tidak sepenuhnya bertanggung jawab atas mereka. Pandangan ini berdampak pada hukuman dan kebijakan perawatan, yang mengarah pada munculnya perawatan psikiatri bagi pelaku.

Penjelasan behavioris yang diberikan pada 1950-an dan 1960-an menolak penjelasan psikoanalitik karena kurangnya pengujian yang ketat.

Sebaliknya, diusulkan agar tindakan orang dikendalikan oleh sistem penghargaan dan hukuman dan kejahatan disebabkan oleh ‘pengalaman belajar yang tidak pantas’ atau ‘salah belajar sosial’. Penjahat dengan demikian dilihat bukan sebagai orang yang ‘sakit’ tetapi mereka yang menderita ‘salah belajar’.

Pada tahun 1960-an dan 1970-an, terjadi pergeseran dari penjelasan behavioris menuju penjelasan perkembangan kognitif. Menurutnya, predisposisi seseorang untuk melakukan kejahatan adalah ‘kognitif’ daripada ‘emosional’, yaitu tindakan seseorang dianggap dipandu oleh perkembangan atau kesadaran moralnya yang mencerminkan kemampuannya untuk membedakan antara ‘benar’ dan ‘salah’. atau ‘baik’ dan ‘buruk’.

Dalam semua penjelasan ini, keluarga telah dipilih sebagai fokus agen kausal. Ini berhenti dari pertanyaan: apa pengaruh masyarakat yang lebih luas? Tidak diragukan lagi bahwa keluarga adalah institusi yang berpengaruh.

Perlu diingat bahwa beberapa masalah yang tampaknya ditimbulkan oleh keluarga adalah fungsi dari sifat dasarnya sebagai struktur kehidupan masyarakat. Jika keluarga menentukan tindakan, itu juga membatasi dan mengkonstruksi tindakan individu. Pengaruh keluarga terhadap para anggota ini kompleks dan tidak dapat dijelaskan secara memadai dalam istilah kausal yang sederhana.

Related Posts