Distilasi Azeotropik dan Ekstraktif : Apa itu mereka

Dalam dunia kimia, distilasi adalah proses pemisahan komponen-komponen campuran berdasarkan perbedaan titik didihnya. Terdapat beberapa jenis distilasi yang digunakan untuk melakukan pemisahan zat, salah satunya adalah distilasi azeotropik dan distilasi ekstraktif. Dalam artikel ini, kita akan membahas secara mendalam mengenai kedua jenis distilasi ini dan aplikasinya dalam industri.

Distilasi Azeotropik

Distilasi azeotropik adalah metode distilasi yang digunakan ketika komponen-komponen dalam campuran membentuk azeotrop, yaitu campuran dengan komposisi tetap yang memiliki titik didih yang sama dengan komponen-komponennya. Dalam distilasi konvensional, komponen dengan titik didih yang lebih rendah akan menguap terlebih dahulu, namun dalam azeotropik, komponen-komponen tersebut membentuk campuran yang sulit untuk dipisahkan menggunakan metode distilasi biasa.

Untuk memisahkan komponen-komponen dalam azeotropik, beberapa teknik dapat digunakan. Salah satunya adalah menggunakan agen pemecah azeotrop, yaitu zat yang ditambahkan ke dalam campuran untuk memecah azeotrop dan memungkinkan pemisahan komponen-komponennya. Contoh agen pemecah azeotrop adalah air yang ditambahkan ke dalam campuran etanol-air untuk memisahkan etanol.

Aplikasi distilasi azeotropik dapat ditemukan dalam berbagai industri. Salah satu contohnya adalah dalam produksi etanol. Etanol yang dihasilkan dari fermentasi memiliki kadar air yang tinggi, sehingga perlu dilakukan distilasi azeotropik untuk memisahkan etanol murni dari air. Distilasi azeotropik juga digunakan dalam pemurnian minyak bumi, produksi bahan kimia, dan industri farmasi.

Distilasi Ekstraktif

Distilasi ekstraktif adalah metode distilasi yang melibatkan penggunaan pelarut untuk memisahkan komponen-komponen dalam campuran. Pelarut yang digunakan memiliki afinitas yang tinggi terhadap salah satu komponen dalam campuran, sehingga dapat mengekstraksi komponen tersebut dari campuran.

Proses distilasi ekstraktif melibatkan dua kolom distilasi yang terhubung. Kolom pertama disebut kolom ekstraktor, di mana pelarut dimasukkan dan bergabung dengan campuran. Pelarut akan mengekstraksi komponen yang diinginkan, membentuk larutan yang kaya akan komponen tersebut. Larutan ini kemudian dialirkan ke kolom kedua, yang disebut kolom regenerator. Di kolom ini, pelarut dipanaskan untuk menguapkan komponen yang diinginkan, meninggalkan pelarut yang sudah bersih dan siap digunakan kembali.

Distilasi ekstraktif memiliki banyak aplikasi dalam industri, terutama dalam pemisahan zat yang sulit atau tidak mungkin dilakukan dengan distilasi konvensional. Contohnya adalah pemisahan senyawa aromatik dari minyak bumi, pemisahan asam-asam organik dari campuran air, dan pemisahan pelarut organik dari campuran reaksi kimia.

Kesimpulan

Distilasi azeotropik dan distilasi ekstraktif adalah dua metode distilasi yang digunakan dalam industri untuk memisahkan komponen-komponen dalam campuran. Distilasi azeotropik digunakan ketika komponen-komponen membentuk azeotrop, sedangkan distilasi ekstraktif melibatkan penggunaan pelarut untuk mengekstraksi komponen yang diinginkan.

Kedua metode ini memiliki aplikasi yang luas dalam berbagai industri, membantu dalam pemurnian zat, produksi bahan kimia, dan pemisahan senyawa yang sulit. Dengan pemahaman yang baik tentang kedua metode ini, industri dapat mengoptimalkan proses pemisahan dan meningkatkan efisiensi produksi mereka.

Perbedaan mendasar Distilasi Azeotropik Distilasi Ekstraktif
Azeotrop Tergantung pada pembentukan azeotrop. Sangat menolak pembentukan azeotrop.
Aplikasi Ini digunakan saat bereksperimen di laboratorium. Ini digunakan untuk manufaktur dan produksi.
Produk Itu diperoleh di bagian atas kolom. Itu diperoleh di bagian bawah kolom.
Proses Ini adalah proses yang rumit. Ini adalah proses yang lebih sederhana.
Waktu Ini lebih memakan waktu. Dibutuhkan lebih sedikit waktu.

Related Posts