# Depresiasi dan Amortisasi: Pengertian, Perbedaan, dan Contoh Penggunaan

Pendahuluan

Dalam dunia akuntansi, terdapat berbagai konsep dan metode yang digunakan untuk mengelola dan melaporkan aset perusahaan. Dua konsep yang penting dalam hal ini adalah depresiasi dan amortisasi. Depresiasi dan amortisasi adalah proses mengalokasikan biaya aset yang dimiliki perusahaan selama jangka waktu tertentu.

Pada artikel ini, kita akan membahas pengertian, perbedaan, dan contoh penggunaan depresiasi dan amortisasi dalam konteks akuntansi perusahaan.

Pengertian Depresiasi

Depresiasi adalah proses mengurangi nilai aset tetap perusahaan selama jangka waktu tertentu. Hal ini dilakukan karena aset-aset tetap tersebut cenderung mengalami penurunan nilai seiring berjalannya waktu atau penggunaannya. Proses depresiasi ini juga berfungsi untuk mencerminkan penggunaan aset selama periode waktu tertentu dalam laporan keuangan perusahaan.

Metode Depresiasi

Ada beberapa metode yang umum digunakan dalam menghitung depresiasi, di antaranya:

1. Metode Garis Lurus (Straight Line Method)

Metode garis lurus adalah metode depresiasi yang paling sederhana. Dalam metode ini, nilai aset dikurangi secara merata selama masa manfaat yang ditentukan. Misalnya, jika sebuah mesin memiliki nilai Rp 100 juta dan masa manfaat 5 tahun, maka setiap tahun aset tersebut akan dikurangi sebesar Rp 20 juta.

2. Metode Saldo Menurun (Declining Balance Method)

Metode saldo menurun adalah metode depresiasi yang mengurangi nilai aset dengan persentase yang tetap setiap tahun. Persentase pengurangan ini biasanya lebih tinggi pada tahun-tahun awal dan kemudian berkurang seiring berjalannya waktu. Metode ini cocok digunakan untuk aset yang nilai manfaatnya lebih tinggi pada tahun-tahun awal, seperti kendaraan bermotor.

3. Metode Produksi (Units of Production Method)

Metode produksi adalah metode depresiasi yang didasarkan pada penggunaan atau produksi aktual aset selama periode waktu tertentu. Dalam metode ini, biaya depresiasi dihitung berdasarkan jumlah unit yang diproduksi atau digunakan oleh aset. Metode ini cocok digunakan untuk aset yang penggunaannya tergantung pada produksi, seperti mesin produksi atau peralatan pabrik.

Pengertian Amortisasi

Amortisasi adalah proses mengalokasikan biaya aset tak berwujud (intangible assets) perusahaan selama jangka waktu tertentu. Aset tak berwujud ini mencakup hak cipta, paten, merek dagang, dan lisensi. Seperti halnya depresiasi, amortisasi juga dilakukan untuk mencerminkan penggunaan aset tak berwujud dalam laporan keuangan perusahaan.

Metode Amortisasi

Terdapat beberapa metode yang dapat digunakan dalam menghitung amortisasi, di antaranya:

1. Metode Garis Lurus (Straight Line Method)

Metode garis lurus juga dapat digunakan dalam menghitung amortisasi aset tak berwujud. Dalam metode ini, biaya aset tak berwujud dibagi dengan masa manfaat yang ditentukan. Misalnya, jika sebuah hak cipta memiliki biaya Rp 100 juta dan masa manfaat 10 tahun, maka setiap tahun aset tersebut akan diamortisasi sebesar Rp 10 juta.

2. Metode Jumlah Angka Tahun (Sum of the Years’ Digits Method)

Metode jumlah angka tahun adalah metode amortisasi yang mengalokasikan biaya aset tak berwujud dengan menggunakan rumus yang didasarkan pada jumlah angka tahun dari masa manfaat yang tersisa. Metode ini menghasilkan amortisasi yang lebih tinggi pada tahun-tahun awal dan lebih rendah pada tahun-tahun akhir.

3. Metode Unit Penjualan (Units of Sales Method)

Metode unit penjualan adalah metode amortisasi yang mengalokasikan biaya aset tak berwujud berdasarkan pada jumlah unit penjualan atau pendapatan yang dihasilkan oleh aset tersebut. Metode ini cocok digunakan untuk aset tak berwujud yang penggunaannya tergantung pada penjualan atau pendapatan, seperti merek dagang.

Perbedaan antara Depresiasi dan Amortisasi

Meskipun depresiasi dan amortisasi memiliki kesamaan dalam mengalokasikan biaya aset selama jangka waktu tertentu, ada perbedaan penting antara keduanya:

  • Jenis Aset: Depresiasi umumnya digunakan untuk aset tetap fisik seperti mesin, kendaraan, dan gedung. Sementara itu, amortisasi digunakan untuk aset tak berwujud seperti hak cipta, paten, dan merek dagang.
  • Metode Penghitungan: Depresiasi umumnya menggunakan metode garis lurus, saldo menurun, atau produksi. Di sisi lain, amortisasi umumnya menggunakan metode garis lurus, jumlah angka tahun, atau unit penjualan.
  • Faktor Pengurangan Nilai: Depresiasi didasarkan pada penurunan nilai aset fisik seiring berjalannya waktu atau penggunaannya. Sementara itu, amortisasi didasarkan pada penurunan nilai aset tak berwujud karena faktor seperti kadaluwarsa hak cipta atau penurunan nilai merek dagang.

Contoh Penggunaan Depresiasi dan Amortisasi

Mari kita lihat contoh penggunaan depresiasi dan amortisasi dalam konteks nyata:

  • Depresiasi: Misalkan sebuah perusahaan membeli sebuah mesin produksi seharga Rp 1 miliar dengan masa manfaat 5 tahun dan metode garis lurus. Setiap tahun, perusahaan akan mengurangi nilai aset tersebut sebesar Rp 200 juta (Rp 1 miliar dibagi 5 tahun). Proses depresiasi ini akan tercatat dalam laporan keuangan perusahaan.
  • Amortisasi: Misalkan sebuah perusahaan membeli hak cipta untuk sebuah lagu dengan biaya Rp 500 juta dan masa manfaat 10 tahun dengan metode garis lurus. Setiap tahun, perusahaan akan mengamortisasi hak cipta tersebut sebesar Rp 50 juta (Rp 500 juta dibagi 10 tahun). Proses amortisasi ini juga akan tercatat dalam laporan keuangan perusahaan.

Kesimpulan

Depresiasi dan amortisasi adalah proses mengalokasikan biaya aset perusahaan selama jangka waktu tertentu. Depresiasi digunakan untuk aset tetap fisik, sedangkan amortisasi digunakan untuk aset tak berwujud. Metode penghitungan depresiasi dan amortisasi dapat bervariasi tergantung pada jenis aset dan kebijakan perusahaan. Proses depresiasi dan amortisasi ini penting untuk mencerminkan penggunaan aset dalam laporan keuangan perusahaan dan membantu perusahaan dalam pengambilan keputusan yang lebih baik.

Perbedaan mendasar Depresiasi Amortisasi
Arti/Definisi Ini adalah pengurangan biaya aset berwujud selama umurnya yang sebanding dengan penggunaan aset pada tahun tertentu. Ini adalah pengurangan biaya aset tidak berwujud selama umur.
Berlaku untuk Ini berlaku untuk aset berwujud seperti Mesin, Peralatan, Furnitur, Bangunan. Ini berlaku untuk aset tidak berwujud seperti paten, lisensi, hak cipta, perjanjian.
Metode implementasi Penyusutan dapat dilakukan dengan menggunakan metode garis lurus (SLM) atau metode penyusutan dipercepat. Amortisasi dapat dilakukan dengan menggunakan Metode Garis Lurus.
Nilai sisa Penyusutan memiliki nilai sisa untuk barang-barang yang biayanya dikurangi. Amortisasi tidak memiliki nilai sisa. Itu harus dibuat ulang sepenuhnya dengan biaya baru.
Biaya dan Manfaat Depresiasi dapat digunakan untuk tujuan perpajakan, namun depresiasi cepat dapat disorot sebagai biaya yang lebih tinggi pada tahun-tahun awal layanan. Amortisasi juga membantu dalam tujuan perpajakan dan tidak pernah dapat menunjukkan biaya yang lebih tinggi di tahun-tahun mendatang.

Related Posts