Absolutisme dan Skeptisisme : Apa itu mereka

Pengantar

Dalam filsafat, terdapat dua pandangan yang saling bertentangan, yaitu absolutisme dan skeptisisme. Kedua pandangan ini memiliki perspektif yang berbeda dalam memahami pengetahuan, kebenaran, dan keyakinan. Dalam artikel ini, kita akan menjelajahi konsep-konsep ini secara lebih mendalam, mempelajari perbedaan antara absolutisme dan skeptisisme, serta melihat bagaimana kedua pandangan ini mempengaruhi cara kita memahami dunia.

Absolutisme

Absolutisme adalah pandangan yang meyakini bahwa ada kebenaran yang mutlak dan universal. Menurut pandangan ini, terdapat prinsip-prinsip dan nilai-nilai yang benar secara objektif, yang dapat ditemukan dan dipahami oleh manusia. Absolutisme berfokus pada keyakinan bahwa ada kebenaran yang tetap dan tak tergoyahkan, terlepas dari sudut pandang atau interpretasi individu.

Beberapa ciri utama dari absolutisme adalah:

  • 1. Objektivitas: Absolutisme menganggap bahwa kebenaran adalah objektif dan tidak tergantung pada sudut pandang individu. Ada kebenaran yang dapat diakui oleh semua orang, berdasarkan pada fakta-fakta dan prinsip-prinsip yang ada di luar diri manusia.
  • 2. Universalitas: Absolutisme meyakini bahwa kebenaran bersifat universal. Artinya, kebenaran yang ditemukan oleh satu individu juga akan berlaku bagi individu lainnya, terlepas dari perbedaan budaya atau latar belakang.
  • 3. Keteguhan: Absolutisme meyakini bahwa kebenaran adalah tetap dan tak tergoyahkan. Keyakinan yang didasarkan pada kebenaran absolut tidak akan berubah seiring waktu atau perubahan lingkungan.
  • 4. Otoritas: Absolutisme cenderung mempercayai otoritas eksternal, seperti agama, filsuf, atau pemimpin politik, dalam menentukan kebenaran. Keyakinan ini sering kali berdasarkan pada prinsip-prinsip yang dianggap sebagai kebenaran yang mutlak oleh otoritas-otoritas tersebut.

Skeptisisme

Skeptisisme, di sisi lain, adalah pandangan yang meragukan kemampuan manusia untuk mencapai kebenaran mutlak. Skeptisisme berpendapat bahwa pengetahuan manusia terbatas dan subjektif, sehingga tidak mungkin untuk sepenuhnya memahami kebenaran yang objektif. Menurut perspektif skeptisisme, kita harus meragukan dan mempertanyakan segala sesuatu, termasuk keyakinan dan pengetahuan yang kita miliki.

Beberapa ciri utama dari skeptisisme adalah:

  • 1. Relativitas: Skeptisisme menganggap bahwa pengetahuan dan kebenaran bersifat relatif. Artinya, kebenaran yang ditemukan oleh satu individu mungkin tidak berlaku bagi individu lainnya karena perbedaan latar belakang, pengalaman, dan sudut pandang.
  • 2. Keraguan: Skeptisisme mendorong sikap keraguan terhadap pengetahuan dan keyakinan yang ada. Skeptisisme mempertanyakan dasar-dasar pengetahuan dan mencari bukti yang kuat sebelum menerima kebenaran tertentu.
  • 3. Subyektivitas: Skeptisisme mengakui bahwa pengetahuan dan keyakinan manusia dipengaruhi oleh faktor-faktor subjektif, seperti persepsi, emosi, dan pengalaman pribadi. Oleh karena itu, skeptisisme menekankan bahwa pengetahuan manusia selalu terbatas dan tidak dapat sepenuhnya objektif.
  • 4. Metode Penelitian: Skeptisisme mendorong penggunaan metode penelitian yang kritis dan skeptis. Pendekatan ilmiah yang berdasarkan pada pengumpulan data, pengujian hipotesis, dan penggunaan logika adalah cara untuk meminimalkan kesalahan dan bias dalam pengetahuan manusia.

Perbedaan Antara Absolutisme dan Skeptisisme

Perbedaan antara absolutisme dan skeptisisme dapat dilihat dalam beberapa aspek:

  • 1. Pendekatan terhadap Kebenaran: Abssolutisme meyakini bahwa ada kebenaran yang mutlak dan objektif, sementara skeptisisme meragukan kemampuan manusia untuk mencapai kebenaran mutlak dan menganggap bahwa pengetahuan bersifat relatif.
  • 2. Sikap terhadap Keyakinan: Absolutisme cenderung memiliki keyakinan yang kuat dan teguh terhadap kebenaran yang diyakini, sementara skeptisisme mendorong sikap keraguan dan pemertanyakan terhadap keyakinan yang ada.
  • 3. Otoritas: Absolutisme cenderung mempercayai otoritas eksternal dalam menentukan kebenaran, sementara skeptisisme mendorong penggunaan metode penelitian dan pendekatan kritis dalam mencari kebenaran.
  • 4. Objektivitas vs Subyektivitas: Absolutisme menganggap kebenaran bersifat objektif dan tidak tergantung pada sudut pandang individu, sementara skeptisisme mengakui bahwa pengetahuan dan keyakinan manusia dipengaruhi oleh faktor-faktor subjektif.

Meskipun kedua pandangan memiliki perbedaan yang signifikan, baik absolutisme maupun skeptisisme dapat memberikan wawasan dan pemahaman yang berharga tentang bagaimana kita memahami dunia. Keduanya menekankan pentingnya kritis dan skeptis terhadap pengetahuan yang ada, meskipun dengan pendekatan yang berbeda.

Kesimpulan

Absolutisme dan skeptisisme adalah dua pandangan filosofis yang berbeda dalam memahami pengetahuan, kebenaran, dan keyakinan. Absolutisme meyakini bahwa ada kebenaran yang mutlak dan universal, sementara skeptisisme meragukan kemampuan manusia untuk mencapai kebenaran mutlak dan menganggap bahwa pengetahuan adalah relatif. Meskipun kedua pandangan ini berbeda, keduanya memberikan wawasan yang berharga tentang bagaimana kita memahami dunia dan menekankan pentingnya kritis dan skeptis terhadap pengetahuan yang ada.

Perbedaan mendasar Absolutisme Skeptisisme
Definisi Absolutisme dapat diartikan sebagai keteguhan akan kebenaran-kebenaran hidup yang mutlak tanpa banyak mengindahkan perkembangan zaman. Skeptisisme dapat didefinisikan sebagai sistem kepercayaan yang mempertanyakan moral masyarakat yang berubah seiring dengan perubahan zaman.
Prinsip Dasar Dugaan Prinsip objektif membentuk inti absolutisme. Skeptisisme selalu didorong oleh subjektivitas dan keraguan.
Pemikir Kunci Peter the Great, dan Elizabeth I adalah pendukung utama dari prinsip ini. Skeptisisme awalnya disebarkan oleh Uriel d’Acosta dan Buddha.
Jenis Utama Absolutisme dikategorikan menjadi meta-etis, filosofis, politik, dan moral. Cabang skeptisisme selanjutnya termasuk metafisik, ilmiah, akademik, pironik, dan religius.
Jangka waktu 1610 sampai 1789 570 SM sampai 475 SM

Related Posts